Aku pertama kali mengenal bela diri untuk pertama kali bukanlah Taekwondo. Tetapi bela diri Kempo, pada saat saya masih di sekolah dasar, saya diajak teman untuk mengkuti bela diri Kempo yang dilaksanakan pada sore hari di UMP. Aku mengikuti bela diri Kempo tidak lama. Setelah itu, saat kelas tiga SMP, Aku ingin mengikuti beladiri Karate, tetapi teman ku menyarankan bela diri Taekwondo. Temanku juga sudah mengikuti bela diri Taekwondo di sekolahnya. Kemudian kami menuju aula TK UMP yang saat itu di gunakan untuk latihan. Yang pertama kali mengajariku Taekwondo adalah Mas Suggeng, mahasiswa UMP. Untuk pemula Aku di ajari menendang tendangan yang namanya Ap-Chagi. Setelah bisa maka akan di ajari tendangan dollyo chagi. Jika sudah menguasai tendangan dollyo chagi maka untuk selanjutnya akan di ajari tendangan yang bervariasi, seperti dolke chagi,dll. Dalam bela diri Taekwondo ada dua jenis, yang pertama kyorugi yaitu gulat, sedangkan poomsae yang lebih ke seni gerakan jurus. (maaf jika saya salah menjelaskannya). Pada saat itu hari latihan setiap Senin dan Kamis. yang mengajari ku adalah Sabeum (pelatih) Arif. Dalam Taekwondo ada istilah UKT yaitu ujan kenaikan tingkat. Aku pernah mengikuti demonstrasi pertunjukkan Taekwondo untuk mahasiswa baru UMP agar tertarik masuk ke UKM Taekwondo.
Di SMA, Aku memilih eskul Taekwondo. Pernah mengikuti POPDA, tetapi kalah. Sabuk terakhirku di SMA adalah sabuk biru. sabuk biru memiliki filosofi langit. Setelah satu tahun setengah Aku pindah sekolah. Selanjutnya, Aku jarang latihan. Aku pernah latihan di GOR Satria hanya beberapa bulan, Aku latihan hingga Aku naik tingkat ke sabuk biru strip merah, tapi sabuknya hingga sekarang masih belum di ambil. Saat selesai latihan kami membungkuk dan mengatakan chariot kyugrye.
The End
Komentar
Posting Komentar