Nama :
Muhammad Husain Nur FAiz Assyifa
NIM 2109010001
a) Perbedaan pola hidup di kedua suku yaitu:
1. Suku Bajo bergantung pada laut untuk mencari ikan
2.suku bajo memiliki adat ritual untuk bayi yang berumur 3 hari.
3. Anak –anak suku bajo menghabiskan waktu bermain di laut sebagai halamannya
4. Makanan mereka hanya ikan dan singkong yang di rebus lalu di padatkan karena harga beras mahal
5. Suku bajo memiliki pemimpin ritual yang bernama Sandro
6. Suku Badui bergantung pada menanam padi secara gotong royong
7. Masyarakat membantu kepala adat / kepala desa (jaro) menanam padi (ngaesuk pare) penanaman padi di ikuti oleh ribuan warga Baduy.
8. Sebagian besar anggota masyarakat yang ikut, menginap di rumah Jaro atau rumah sekitarnya
9.
kegiatan memasak dirumah Jaro, yang pria menyiapkan bumbu dan memanggang ayam
10.Pada malam hari suku badui mengadakan pesta hingga tengah malam.
b) unsur kebudayaan suku bajo
1.
Sistem religi
2. Sistem kesenian
3. Mata Pencaharian
contohnya :
Mata
pencahariaan mereka adalah sebagai nelayan dan peralatannya menggunakan panah
tombak. Kesenian mereka yaitu menyanyikan lagu.
Sistem religi : Sandro pemimpin ritual adat , ritual untuk bayi yang
baru lahir yang berumur 3 hari akan melalui proses ritual ini, air laut untuk
dimandikan kepada bayi sesuai adat orang laut, namun ritual ini sudah mengalami
pergeseran, dahulu bayi yang baru lahir langsung diceburkan ke laut, sebagai
sandro kalo membacakan mantra rahasia untuk si bayi “ritual bantang ini
dilakukan sebagai symbol perpisahan antara si bayi dengan sandro bayi (dukun
bayi). Ritual ini belum berakhir, ritual dilanjutkan pada malam hari dirumah si
bayi. Semua anggota keluarga mempersiapkan sesaji untuk prosesi ritual bagi si
bayi yang belum ternamai, ketika semua perlengkapan sudah siap, bayi dan ibu
akan di panggil untuk melanjutkan prosesi ritual ini,prosesi ritual ini di
pimpin oleh sandro lain yang juga membacakan mantra-mantra rahasia, kemudian
sandro membawa sesaji ke laut di samping rumah si bayi, setelah membaca mantra-mantra
sesaji di larung ke laut. Setelah selesai si sandro kembali ke rumah si bayi
dengan hati-hati jangan sampai terkena air laut agar ritual ini sempurna. Tahap
ritual akhir di tempat rumah si bayi. “kalau (sesaji) tidak diturunkan ke laut,
maka (si bayi) akan sakit panas. Mereka percaya bahwa tali pusar yang di larung
ke laut adalah saudara si bayi dan sesaji yang di larung ke laut untuk saudara
si bayi yang hidup di laut, sehingga tidak mengherankan jika anak-anak suku
laut sangat akrab dengan laut. Laut adalah halaman tempat bermain mereka
sepanjang hari. Panca indra mereka sangat terbiasa dengan laut, bahkan mereka
tertawa ceria dalam air laut. Laut dan lingkungan ini warna bagi anak suku laut
c)
Unsur
suku Badui
Sistem organisasi masyarakat
system mata pencaharian
system kesenian
contoh: Masyarakat badui memiliki ketua suku yang disebut Jaro
Mata pencaharian mereka menanam padi / petani
Kesenian mereka menyayikan lagu dan alat mausik.
Suku baduy Adalah masyarakat yang suka gotong royong. Masyarakat membantu kepala adat / kepala desa (jaro) menanam padi (ngaesuk pare) penanaman padi di ikuti oleh ribuan warga Baduy. Sebagian besar anggota masyarakat yang ikut, menginap di rumah Jaro atau rumah sekitarnya
Komentar
Posting Komentar