Langsung ke konten utama

Bagaimana Menyalakan Pusat Bakat


Pendidikan bukan tentang mengisi ember, melainkan tetntang menyalakan api.
-W. B. Yeats



IDE KONYOL MIKE DAN DAVE

Pusat-Pusat bakat seperti Curacao, Rusia, dan Korea Selatan dinyalakan oleh sebuah "sambaran Petir": seorang bintang yang memancar, sebuah kemenangan yang ajaib. Tak seorang pun bisa meramalkan atau merencanakannya. Jenis penyalaan yang berbeda terjadi ketika tidak ada "sambaran petir" namun motivasi dan bakat tetap berkembang. Jenis penyalaan ini berhubungan secara lebih langsung dengan kehidupan kita sehari-hari. Saya menemukannya terjadi paling nyata di suatu tempat yang tak terduga: sekelompok sekolah di pusat kota.
    Pada musim dingin 1993 Mike Feinberg dan Dave Levin belum mencapai kemajuan yang baik. Usia mereka dua puluhan. Mereka teman sekamar dan sama-sama guru kelas dua di sistem sekolah negeri Houston. Mereka berdua anggota Teach for Amerika, sebuah kelompoknirlaba baru yang memfasilitasi para sarjana baru untuk mengajar selama dua tahun di sekolah berpendapatan rendah. Tahun pertama Feinberg dan Levin penuh dengan kendala (ban disayat, kelas kacau). Tahun kedua justru lebih buruk. Mereka mencoba untuk berinovasi, tetapi usaha-usaha mereka dihalangi oleh birokrasi yang tidak kompeten, orang tua yang tidak membantu, siswa yang berbuat jahat, regulasi yang konservatif, dan mesin pembuat frustasi paling efisien yang pernah ditemukan: sistem sekolah negeri di pusat kota amerika. Levin sudah diminta untuk tidak kembali ke sekolahnya. Sementara Feinberg, mencapai suatu kedalaman yang bahkan lebih, merenungkan keinginan melanjutkan ke sekolah hukum. Mereka menghabiskan malam mereka di musim dingin dengan duduk-duduk di apartemen sederhana mereka di Houston, menggerutu tentang pekerjaan, minum bir, dan nonton Star Trek. Pola pikir mereka kemudian diringkas Feinberg dengan: "Hidup ini payah, lalu kemudian mati."
     Pada sebuah malam di musim dingin yang panjang untuk alasan-alasan yang masih misterius (diilhami sebuah pidato yang mereka dengarkan, mereka berpikir, atau barangkali karena pengaruh bir), kedua pemuda gagal ini tiba-tiba memiliki sebuah ide menantang: mereka akan berhenti melawan sistem dan mulai membangun sekolah mereka sendiri. Mereka mengambil secangkir kopi, memutar lagu U2 Achtung Baby berulang-ulang, dan sekitar pukul lima pagi mereka telah mencetak sebuah manifesto berisi empat pilar ciptaan mereka: waktu dikelas yang lebih banyak, guru-guru berkualitas, dukungan orang tua, dan dukungan administratif. Mereka pasti terkena pengaruh kafein, karena keduanya menamai proyek mereka dengan nama yang sama mengahnya dengan impian Kapten Kirk. Mereka menamainya Knowledge is Power Program atau KIPP.
    Pada berbagai momen lain dalam sejarah, suatu ide yang samar-samar seperti halnya KIPP, yang didukung oleh sedikit orang yang kurang berpengalaman, Akan menguap. Tetapi seperti yang terjadi, Texas baru-baru ini telah meluncurkan undang-undang pembiayaan sekolah-sekolah khusus, yang memungkinkan sekolah tersebut mencapai standar-standar pendidikan dasar. Beberapa bulan kemudian, salam sebuah situasi yang sebelumnya tak terbayangkan, dua pemula tersebut dan manifesto bernoda kopi mereka mendapat kesempatan. Bukan sebuah sekolah utuh (dewan pendidikan tentu saja tidak segila itu), melainkan hanya sebuah ruang sudut di sudut sekolah Dasar Garcia, di mana Feinberg dan Levin bebas mengambil langkah selanjutnya dalam perjalanan idealitas mereka: gagal.
    Mayoritas sekolah khusus dibangun berdasarkan teori pendidikan, seperti Waldorf, Montessori, atau pigaet. Karena kekurangan waktu, alih-alih Feinberg Dan Levin mengikuti prnsip-prinsip Butch Cassidy: mereka mencuri. Mereka menelusuri guru-guru terbaik di distrik mereka dan menyerap rencana-rencana pembelajaran, teknik mengajar, gagasan-gagasan manajemen, jadwal, aturan-aturan-segalanya. Feinberg dan Levin kelak disebut "inovatif", namun pada waktu itu mereka sama inovatifnya dengan seorang penguntil. "Kami mengambil setiap ide bagus yang belum terkenal," ujar Feinberg.
    Dari tumpukan suku cadang curian ini, mereka merakit sebuah kendaraan pendidikan tua. Sistem itu masih berdiri model kuno yang penuh kerja keras (waktu sekolah yang lebih panjang, liburan musim panas yang lebih pendek, seragam, sistem hukuman dan penghargaan yang jelas), terbungkus dalam kulit teknik inovatif (jadwal akan dipelajari melalui bernyanyi rap; siswa diberi nomor telepon rumah guru-gurunya untuk pertanyaan seputar pekerjaan rumah). Di dinding, Feinberg dan Levin menempelkan semboyan yang di kutip dari guru Los Angeles yang terkenal bernama Rafe Esquith-"Bekerja keras, Bersikap baik". Tujuan jangka panjang kendaraan mereka : melakukan apa pun agar para siswa bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
    "jelas bagi kami sejak awal bahwa perguruan tinggi benar-benar merupakan kunci bagi segala hal," ujar Feinberg. "Ketika Anda masuk ke dalam sistem sekolah negeri di kota-kota besar, Anda akan sadar betapa kacaunya sistem tersebut-bagaimana kode pos tempat kelahiran Anda menentukan peluang Anda untuk gagal atau sukses. Perguruan tinggi merupakan pintu keluar."
    Pada musim semi dan musim panas, Feinberg dan Levin menyusun nama-nama siswa yang direkrut untuk penelitian mereka. Setelah suatu kampanye di lingkungan sekitar secara intensif, mereka memperoleh lima puluh siswa yang kebanyakan orang tuanya frustasidengan kondisi status quo sebagaimana Feinberg dan Levin. Ketika murid-murid KIPP berjalan memasuki kelas kecil pada hari pertama mereka, pergruan tinggi tampak sebagai perjalanan yang jauh. Kemampuan para siswa berada di bawah rata-rata: hanya 53 persen yang lulus ujian bahasa inggris dan matematika negara bagian di tahun sebelumnya. Ruangan penuh sesak; sekolah yang ditempati bersikap resisten terhadap kehadiran mereka; waktu sekolah yang lebih panjang (pukul tujuh tiga puluh pagi sampai lima sore, ditambah kelas setiap sabtu, menurut manifesto) menyebabkan setiap orang tertekan.
    Namun kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Di suatu titik di musim gugur tersebut, mobil tua itu mulai terbatuk-batuk lalu bergerak. Semua orang-termasuk Feinberg dan Levin-takjub melihat siswa-siswa KIPP menghidupi semboyan mereka: mereka bersikap baik dan bekerja keras.Benar-benar keras. Pada penghujung tahun pertama, 90 persen siswa lulus ujian negara bagian.
    Dengan bersemangat Feinberg dan Levin terus melanjutkan misinya. Selama tahun pertama mereka mengajar seperti pengembara- Feinberg tinggal di Houston, sementara Levin pindah ke Bronx. Mereka memperjuangkan ruangan, mengajar di trailer, dan mengemis demi ruangan yang tak terpakai. Setiap tahun mereka mencuri banyak ide bagus dan membuang ide-ide yang gagal. Setiap tahun nilai-nilai ujian KIPP terus meningkat. Pada tahun 1999, akademi-akademi KIPP di Houston dan Bronx meraih nilai lebih tinggi dalm ujian-ujian terstandarisasi dibandingkan sekolah-sekolah negeri lain di kedua distrik itu. Mobil tua tidak hanya menambah kecepatan, tapi juga melaju meninggalkan yang lain.
    Berita menyebar. berkat laporan 60 minutes, KIPP menerima sumbangan 15 juta dolar dari Donald dan Doris Fisher, pendiri toko pakaian Gap. Lusinan dan kemudian ratusan guru muda (banyak di antaranya berasal dari program Teach of America yang sukses besar dan berhasil merekrut  2.900 guru baru setiap tahun serta menerima lamaran dari 10 persen lulusan Georfetown, Yale, dan harvard di tahun 2008) berkomitmen untuk memulai sekolah KIPP-nya sendiri. Pada 2008, ada 66 sekolah KIPP dari Los Angeles sampai New York, yang melaani 16.000 siswa. Banyak sekolah KIPP saat ini menghasilkan siswa-siswa yang mencapai nilai tertinggi di masing-masing kota. Dan paling penting, 80 persen siswa KIPP meneruskan ke perguruan tinggi. Feinberg dan Levin masih mengajar siswa-siswa kelas lima di Houston dan Bronx, selain mengawasi sekolah-sekolah KIPP di wilayah mereka dan bekerja di dewan direksi nasional KIPP. Jason Snipes, anggota Harvard university's Council of Great City Schools, merangkum kesusksesan mereka dengan istilah Andruw Jones: "KIPP benar-benar memukul bola keluar lapangan."
    KIPP bisa saja dipandang sebagai suatu dongeng unik tentang orang-orang baik hati yang tak di unggulkan, yang menangkap kilat dengan botol. Jika itu yang terjadi, minat kita akan cerita ini akan berakhir sekarang. Namun, cara lain untuk melihatnya adalah sebagai suatu contoh penyalaan murni:seni dan ilmu untuk menciptakan pusat-pusat bakat dari bawah, tanpa bantuan seorang juara Kelas Dunia atau terobosan ajaib apa pun. Itulah yang menjadikannyan bermanfaat bagi kita untuk melihat secara lebih jauh mobil tua luar biasa ini, untuk mengetahuai apa yang membuatnya melaju.



TIRAI TERANGKAT

Di banyak sekolah, hari pertama pada tahun ajaran baru sama dengan beberapa langkah hari maraton, atau mungkin pertempuran kecil pertama dalam perang pemberontakan. Di sekolah-sekolah KIPP, seperti Akademi Hertwood KIPP di San Jose, California, hari pertama seperti malam pembukaan pertunjukan broadway. Ada naskah, giliran tampil yang waktunya telah diatur, alur cerita, penonton yang gugup, dan, sepuluh menit sebelum tirai dibuka, kerumunan sebelum pertunjukkan di belakang layar. Di KIPP Heartwood, kerumunan para guru terjadi dalam sebuah kelas kosong, beberapa langkah dari halaman luar ruangan di mana para siswa mulai berkumpul.
    "Bapak dan Ibu sekalian, mari kita segera keluar," ujar sehba Ali, pimpinan sekolah, kepada para stafnya yang berdiri dari lima belas guru. "Kita akan bertepuk tangan, menyambut mereka,bicara tentang sekolah, memperkenalkan setiap guru, kemudian mengakhirinya dengan nasihat agar siswa 'bersikap baik'. Semua mengerti?"
    Sehba Ali berusia tiga puluh satu tahun dengan tinggi lima kaki. Dia memakai celana panjang berwarna begie yang rapi dan sepatu bertumit tinggi. Dia bersikap persuasif dan lembut, namun menunjukkan otoritas yang tak meragukan-suatu perpaduan antara Audrey Hepburn dan Erwin Rommel. Ali tidak perlu mengulangi informasi ini: semuanya diketik rapi dalam naskah untuk hari ini, yabg menerangkan semua peristiwa, teransisi, dan aktivitas. Beberapa hari terakhir, staf mempelajari naskah secara mendetail. Misalnya, mereka menghabiskan satu jam untuk mendiskusikanjarak tubuh dan penempatan kaki yang benar untuk para siswa kelas lima KIPP yang berdiri di garis lurus. Aktivitas hari ini sudah dilatih dengan baik.
    Di halaman sekolah berdiri 140 siswa baru KIPP dan keluarga mereka. Mereka berdiri berdesak-desakan di bawah sinar matahari pagi. Ank-anak gelisah; orang tua menutupi kegugupannya dengan senyuman dan pelukan. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang Hispatik, beberapa orang asia dan Afro-Amerika; mereka datang dari rumah-rumah sewaan murah apartemen bersubsidi dari pemerintah di San Jose. Seperti banyak sekolah KIPP, sekolah ini mulai dari kecil, dengan kampanye pintu ke pintu di lingkungan sekitar pada tahun 2004. Saat itu Ali menanyakan kepada orang tua tentang pengalaman mereka di sekolah negeri. Lalu ia menawarkan kepada mereka alternatif lain. (Di lingkungan sekitar, Ali dikenal sebagai "Wanita yang banyak bertanya?") Di tahun pertama operasinya, KIPP mendapat 75 siswa kelas lima; sejak itu, jumlah siswa bertambah 275 orang dengan tambahan tiga level kelas.
    Kini mereka memiliki daftar tunggu siswa yang panjang. Atmosfer kegembiraan tergambar di halaman sekolah. Suasananya seperti sedang melepas keberangkatan yang tidak dapat di batalkan. Anak-anak itu seolah-olah sedang naik kapal laut menuju sebuah dunia baru. Mayoritas siswa KIPP Heartwood berasal dari distrik sekolah lokal, namun tidak semua. Latha Narayannan telah berkendara selama satu jam dari rumah mereka di Fremont, California, untuk mengantar anak laki-lakinya. Narayannan yang mempunyai pekerjaan denagan gaji besar di perusahaan konsultan Internet, mengatakan bahwa sekolah negeri di lingkungannya berkualitas tinggi. Namun, dia datang ke KIPP karena dia ingin 100 persen yakin bahwa Ajiit putranya bisa meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. "Saya mendengar tentang apa yang mereka lakukan disini," katanya , "Saya katakan, saya menginginkan ini untuk anak saya."
    Tepat pukul delapan pagi Ali dan para guru berjalan ke halaman. Ali bertepuk tangan lima kali. Para guru lainnya bergabung dan menghitung jumlah siswa. Anak-anak terdiam, orang tua pun menjauh.
    "Selamat pagi," Ali bersuaranyaring.
    Anak-anak menjawab dengan berbisik-bisik.
    "SELAMAT PAGI," ulang Ali.
    "Selamat pagi," ucap beberapa anak.
    Ali yang berharap pun kecewa.
    "SELAMAT PAGI," cobanya lagi.
    Guru lain, Lolita Jackson, memberikan jawaban yang tepat "Selamat pagi, Bu ali."
    Kali ini mereka paham. Ketika lain waktu Ali meyapa mereka, mereka pun menjawab seperti paduan suara, "SELAMAT PAGI, BU ALI."

  Ali menyambut mereka, menyebut setiap kelas menurut nama barunya. Kelas lima adalah 2015; kelas enam adalah kelas 2014; angka tersebut mengacu pada tahun saat mereka akan masuk perguruan tinggi. Ali kemudian meminta sekelompok siswa yang kembali untuk belajar di KIPP, yang memakai kemeja KIPP berwarna putih dan hijau, untuk mencontohkan sebuah barisan. Mereka menempatkan sepatu karetnya di sepanjang salah satu gais berwarna di halaman: pandangan ke depan, tangan turun, jarak diataur dengan rapi.
   " Seperti inilah barisan di KIPP," ujar Ali, dan seorang asisten menerjemahkannya ke dalam bahasa spanyol. "APAKAH KALIAN SEMUA PAHAM?"
   "YA, BU ALI,"  jawab mereka kompak.
   Setiap anak diperkenalkan sesuai dengan namanya, mendapat buku, dan diberi tepuk tangan kelompok sebagai pujian. Tas ransel, botol minuman, dan mantel ditinggalkan pada orang tua-mereka tidak memerlukan apapun. Para guru KIPP mondar-mandir, memastikan buku di pegang dengan tangan kiri (rapi dan rata, denagn tulang belakang turun), kaki lurus, tangan terentang, kemeja dimasukkan. Walau disarankan untuk tersenyum, tidak satu pun melakukannya. Ali berjalan menyusuri barisan. Dia berhenti pada satu anak laki-laki dan membuat koreksi dengan sudut dua puluh derajat pada caranya memegang buku.
   Inilah budaya KIPP. BUdaya tersebut mencakup cara berjalan, cara berbicara (mereka melatih suara tiga inci, suara dua belas inici, dan suara ruangna), cara duduk di kursi (maju, tagak lurus, tanpa pensil di tangan), bagaimana memandang guru atau teman sekelas yang sedang berbicara (disebut mengikuti jejak: kepala mendongak, pandangan mata ke arah mereka, bahu menghadap pembicara), bahkan cara berlaku di kamar mandi (menggunakan empat atau lima lembar tisu toilet dan satu semprotan sabun cair untuk mencuci tangan). Guru KIPP meletakkan sampah disekitar sekolah dan melihat siapa yang memungut, kemudian memberikan selamat kepada orang tersebut di depan kelompok. Mereka terus-menerus melakukan rutinitas bertepuk tanggan, merapal, berjalan, bersama dengan saksama. (Siswa yang lebih tua menerapkna aturan secara lebih longgar-misalnya, mereka tidak perlu berjalan dalam barisan-namun hak istimewa itu diraih dengan perjuangan.)
   "Setiap hal penting," kata feinberg. "Apa pun yang mereka lakukan berhubungan dengan segala hal di sekitar mereka."
   Setelah membentuk barisan, siswa-siswa baru dibawa ke dalam kelas, dimana mereka duduk di lantai di sepanjang garis, Tidak ada meja tulis, karena siswa sudah di beri tahu bahwa mereka belum berhak mendapatkannya. Para siswa membuka bukunya, mencari beberapa halaman soal matematika. Ini adalah "waktu belajar hening", makanan sehari-hari pada pagi hari di KIPP. Setelah setengah jam keheningan yang mnyerupai katerdal(beberapa bisikan dan tawa dihenrikan oleh para guru; setelah itu, keheningan menguasai), Bu Ali melangkah ke depan ruangan dan menyapa mereka kembali menurut nama-nama kelas mereka.
   "Tujuan kita-perhatikan saya-sebagai sebuah tim dan keluarga adalah agar setiap orang dalam ruangan ini bisa masuk PERGURUAN TINGGI."
   Ali berhenti dan membiarkan  gagasan tersebut meresap. Dia mengulangi ungkapan 'masuk perguruan ' dengan lambat dan khidman, seperti imam yang mengatakan 'msuk surga'. "Kemana kita akan masuk?" tanyanya.
   "Perguruan tinggi," muncul jawaban sementara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Story King Motorcycle Community.

King Motorcycle Community (Komunitas motor king) P ada saat hari Minggu setelah lebaran, kami ke Kemranjen, dan bertemu dengan saudara yang bernama Saiful seorang mantan anggota   komunitas motor king dan dia bercerita, dan perlu Saya ceritakan kepada para pembaca. Ia bercerita bahwa komunitas motor tidak selalu buruk. Ini cerita yang saya ingat. Saiful meminta izin kepada orang tuanya untuk mengikuti komunitas motor king, tetapi dengan syarat untuk makan, dia yang cari sendiri dan jangan lupa untuk beribadah. Saiful membawa tiga pakaian, yang pertama untuk dipakai, yang kedua untuk beribadah, yang ketiga jika kotor dia bersihkan. Pernah suatu saat motornya mogok lalu di tolong oleh perempuan yang penampilannya mungkin kurang baik, motornya di dorong dengan kaki sambil meunggangi motor, istilahnya di step. Pada saat waktu salat wanita tersebut menawarkan untuk istirahat, walaupun penampilanya seperti itu tetapi masih menawarkan untuk ibadah. Pengalaman selanj...

Seminar fo Research Proposal

  Revisi Name    : Muhammad Husain Nur Faiz Assyifa NIM      : 2109010001 Title: Heroism in Silence: Analyzing Character and Narrative in Resistance (2020) BAB I: INTRODUCTION 1.1 Background of the Study The film Resistance (2020), directed by Jonathan Jakubowicz, explores the concept of silent heroism during World War II. Set against the historical backdrop of Nazi-occupied France, the film tells the story of Marcel Marceau, a mime artist who helped save the lives of Jewish children. Through the subtle acts of bravery and humanity displayed by Marceau, the film sheds light on the quiet but powerful ways in which individuals resisted oppression. This study examines the heroic qualities portrayed by Marceau and other characters, focusing on how silence, resilience, and personal sacrifice contribute to the theme of heroism. In literature and film studies, heroism has traditionally been represented through grand gestures or epic ta...

Short Story : Miracles (Keajaiban)

       Pada suatu hari Aku telah sampai pada semester 7 di perkuliahan, yang ada mata kuliah Seminar of Research Proposal atau yang biasa di singkat SEMPRO. Di semester sebelumnya yaitu di semester 6 sudah mengumpulkan judul " Psychoanalytic Critique of Characters in Shakespeare's Tragedy", dan kemudian di semester 7 di umumkan juga dosen pembimbing skripsi. kemudian mata kuliah tersebut berjalan dengan lancar. kami di suruh membuat skripsi dari BAB I sampai BAB III. kemudian, Aku bingung harus mengerjakan bagaimana. Lalu, Aku dan temanku setelah pelajaran bimbingan skripsi. Selanjutnya, giliran Aku bimbingan,     "Ma'am apakah seperti ini benar?". Aku bertanya pada dosen ku.     "Coba ceritakan sinopsisnya" kemudian Aku menceritakan sinopsisnya tetapi Aku lupa dan dosen ku tertawa. kemudian, dosen ku berkata,       "Selain karya shakespeare kamu sudah nonton film apa aja?"     "Aku pernah nonton film J...